Cerita Ngentot CERITA SEX JANDA DAN ANAK KECIL

untuk berhubungan badan.
cerita lengkapnya sebagai berikut
Aku mendapatkan santunan besar dari suamiku.
Sebuah rumah yang kami bangun bersama,
kemudian deposito dan sebuah mobil serta
sebuah toko. Biaya sekolah anak-anakku,
ditanggung oleh suamiku dan mereka bebas bisa
bertemu kapan saja suamiku dan anakku mau.
Tapi sejak perceraianku secara resmi, aku tak
mau digauli oleh suamiku lagi. Aku jaga gengsi,
bahwa aku bukan perempuan sembarangan.
Seorang tetanggaku baru saja pindah ke
kompleks rumah kami dan kami menjadi akrab,
karena dia memiliki anak tunggal dan suaminya
juga seorang yang alim. Mereka super sibuk.
Sering keluar kota bersama untuk urusan bisnis
dan mereka selalu menitipkan putra tunggalnya
Hendra padaku sampai seminggu lamanya.
Hendra suka melirik tubuhku, ketika dia bermain
dengan putriku yang masih kelas 1 SD dan yang
kecil masih TK. Aku selalu tersenyum, kalau dia
mulai melirik belahan dadaku. Saat itu terbersit
dihatiku untuk mendapatkan sex dari Henra yang
masih berusia 15 tahun dan sudah duduk di kelas
1 SMA. Terkadang aku malu pada diriku sendiri.
Haruskah aku bersetubuh dengan anak ingusan
itu?
Aku sengaja memakai memakai Kimono sore hari
sehabis mandi. Kimono pendek. Dengan
rambutku tergerai basah, aku duduk di sofa teras
belakang rumah. Aku sengaja membaca
majalahwanita di hadapan Hendra yang sibuk
bermain sendiri dengan mengokotak-katik radio
eksperimennya. Tentu sajabelahan Kimono ku
kusengaja tersingkap agar paha putih mulusku
terlihat. Terkadang aku sengaja celana dalamku
antara terlihat dengan tidak. Seakan-akan
dengan gerakan repleks aku menatap wajahnya,
seakan tertangkap basah, ketikamemelototi
pangkalpahaku. Kemudian aku tersenyum
padanya. Hendra tertunduk malu.
Laaahhh; kenapa musti malu, Hen. Kan kamu

sudah dewasa dan gagah lagi, rayuku dengan

suara mendayu. Hendra diam dan wajahnya
bersemu merah.
;Udah sini duduk dekat tante,;kataku sembari
menarik tangannya agar duduk di dekatku.
Dengan malu-malu Hendra duduk di sampingku,
sementara dua putriku bermain dengan asyiknya
di gazebo yang dikelilingi pepohonan bunga
warna-warni. Biasa jika dua anak aperempuan
bermain, yang mereka mainkan adalah masak-
masakan.
;Kenapa musti malu, sayang. Kan kamu laki-laki
dan seorang yang gagah,kataku memuji-muji
dirinya.
Hendra memang kelihatan gagah. Hendra diam
saja. Kulihat di balikcelananya ada benjolan.
Artinya penisnya sedang mekar dan mengeras.
Cepat aku meraba penis. Hendra sepertio
menepis tanganku.
;Malu tante,;katanya.
Kok malu, kan hanya kita berdua gakada yang
ngeliat. Adik-adikmu mana mengerti itu, rayuku
lagi.
Kamu sudah punya pacar belum?tanyaku.
Hendra mengaku sudah. Entahlah, benar atau
tidak dia sendiri yang tau.
;Udah pernahciuman?; pancingku.
;Udah tante,; jawabnya. Aku juga tak mau tau

apakah dia bohong atau tidak.
Bisa ni, tante bukti in, kalau kamu sudah pernah

berciuman, bisikku, memancing.

buktiin bagaimana tante? Apa aku harus

bawa pacarku dan berciuman di depan tante,

katanya seperti orang lugu.
“Tidak harus demikian dong. Aku punya cara,
untukj mengetahui, apakah kamu bohong atau
tidak,; kataku merayu lagi.
Gimana cara tante membuktikannya? Ayo ikut tante,; kataku dan bangkit dari tempat

duduk. Aku memasuk rumah dan Hendra
mengikuti aku. Begitu dia masuk, aku menutup
pintu. Langsung dia aku peluk.
“Ayo buktikan, kalau kamu sudah percah
berciuman,” kataku sembari menarik tengkuknya
dan mengecup bibirnya.
Hendra terkejut, namun akhirnya dia memberi
respons pada kecupan bibirku. Kami berciuman.
Bibir kami sudah menyatu. Aku percaya Hendra
mungkin saja sudah pernah berciuman atau
mendapat keterangan dari teman-temannya.
Kulepas ikatan komonoku, hingga Kimonoku
terbuka dan aku memang senagaja tidak
memakai Bra. Kuarahkan tangannya untuk
mengelus tetekku. Aku terus mempermainkan
lidahku dalam arongga mulutnya.
Kami berciuman dan saling memeluk dan
meraba. Sampai akhirnya Hendra melenguk dan
memelukku kuat, kemudian melemas. Aku sadar,
kalau Hendra sudah orgasme. Cepat sekali.
Mungkin karena dia masih hijau, masih pemula.
Aku tersenyum dan melepaskan pelukanku,
kemudian memperbaiki ikatan Kimono-ku. Saat
itu putri bunghsuku mengetuk pintu ingin masuk
kerumah. Aku membuka pintu dan kembali duduk
di kursi terasa.
2 hari Hendra tak datanag ke rumah. Setiap kali
kami bertatapan mata, dia selalu tertunduk malu.
Biasalah, pemula, demikian batrhinku. Tapi
bagiku, itu adalah langkah awal yang baik untuk
selanjutnya sampai kepada apa yang aku
inginkan.
Hari ke 3, kembali mama dan papanya
menitipkan Hendra padaku. Makannya dan
semuanya. Bahkan Hendra boleh mengunci
rumahnya dan tidur bersama kami di rumahku.
Aku tetap santun dan siap menjadi ibu asuh
Hendra.
Hendra datang ke rumahku dan kami kembali
duduk sore hari di teras belakang rumah. Aku
mengajak dia ngobrol entah kemana-mana arah
obrolan kami. Akhirnya aku memuji-mujinya,
sebagai seorang lelaki tulen dan perkasa serta
hebat. Aku menagatakan kehebatannya
berciuman.
“Kenapa kamu tak mau mengisap pentil tetek
tante, Hen?”
“Apa boleh tante,” Hendra bertanya dengan
matanya yang berbinar. Horeee…. pancingku
sudah mengana, batinku pula.
“Kenapa tidak sayang. Jika tidak ada orang lain,
semuanya adalah milikmu. Kamua bebas
memperlakukan aku bagaimana saja, asal kamu
tidakcerita kepada siapapun juga dan tidak boleh
dilihat oleh orang lain,” kataku meyakinkannya.
Nampak dia senang.
“Apa kamu mau sekarang?” tanyaku. Kedua
anakku kebetulan baru saja masuk kamar untuk
tidur diang dan aku sudah menyemprot tubuhku
dengan farvum kesayanganku. Kulihat Hendra
tersenyum.
Kembali kutarik tangannya ke dalam rumah dan
aku langsung menguncinya. Aku tau, semua
keadaan rumah sudah terkunci, termasuk
gerbang. Sudah aman. Kulepas kimono-ku dan
aku sudah telanjang, tingga celana dalam min
yang melekat di tubuhku.
“Sekarang inilah milikmu. Perbuatlah, seperti apa
yang kamu mau,” kataku merayu dan
mendekatinya serta memeluknya.
Kami berciuman kembali. Kuarahkan tangannya
meremas tetekku. Setelah puas berciuman, aku
arahkan pentil tetekku untuk diisapnya. Kulihat
Hendra demikian rakusnya mengisap tetekku dan
sebelah tangannya kuarahkan mengelus tetekku
yag sebelah lagi. Saat itu, aku memasukkan
tanganku ke dalam celananya dan mengelus
penisnya. Aku tau Hendra belum berpengalaman
dalam hal ini. Aku harus sabar mendidiknya,
hingga apa yang kuinginkan bisa terpenuhi.
Aku berhasil melepaskan celananya ke lantai.
Tanganku bebas mengelus penisnya.
“huuuhhhh… luar biasa hebatnya kontolmu
Hen,”kataku memuji miliknya. Laki-laki kalau
dipuji-puji kehebatan miliknya, pasti bangga.
Kepalanya pasti langsung membesar. Apalagi
laki-laki yang masih remaja.
Hendra diam saja, malah mengganti mulutnya ke
pentila tetekku yang satu lagi. Aku pun merintih-
rintih kenikmatan secara profesional.
“Kamu hebat sekelai sayang. Kamu hebat,”
teruskan sayang,” bisikku
Hendra terus merabai tubuhku dan tangannya
sudah berada di kemaluanku. Bulu-bulu
kemaluanku yang kutata rapi bulu-bulunya,
membuat rabaan Hendra aku hampir melayang.
“Masukin dong kontolmu ke memek tante,
sayang,” pintaku seperti merintih dan menjerit
kecil secara profesional.
Desah nafasku pun kubuat seperti aku sangat
membutuhkannya.
“Kontolmu hebat, Hen. Pasti aku akan menjadi
sangat puas. Akulah sayang, aku adalah
milikmu,” kataku menghiba-hiba sedramatis
mungkin.
Kutarik dia menindih tubuhku di atas lantai.
Kukangkangkan kedua kakiku.
“Masukin sayang…” kataku. Hendra mulai
mengarajhkan kontolnya memasuki lubang
vaginaku. Berkali-kali meleset.
Ingin aku menuntun penisnya memasuki lubang
vaginaku. Tapi aku membiarkannya. Sampai
akhirnya Hendra duduk dan memegang sendiri
penisnya dan mengarahkannya ke dalam
lubangku dan menekannya. Tentu saja penisnya
cepat menghilang di dalam kveginaku yag sudah
basah.
Setelah masuk, aku pun merintih seakan
demikian nikmatnya dan demikian gagahnya
Hendra.
“Huh… kontolmu hebat sekali sayang. Ayo,
pompa yang kuat. Habisi aku. Habisi aku, hajar
sepuasmu,” rintihku sepeertai aku tak pernah
melakukan hal yang seperti itu. Aku merasakan
Hendra mulai semangat menghajar diriku.
Mulutku terus nyerocos memuji kehebatannya
dan seakan aku demikian merasakan keupasan
yang tiada taranya. Hendra mencari bibirku dan
melumatnya dengan buas dan ganas. Hatiku
bersorak, kalau jeratku sudah mengenai korbanku
dan tak lama lagi Hendra pasti ketagih dan akan
merengek-rengek meminta kepuasan sex dariku.
“Oh… Hen…kekasihku, cintaku… kontolmu hebat
sekali sayang. Terus lagi sayang, bagaimana
keinginanmu untuk memuaskan dirkku dan
dirimu, silahkan. Silahkan sayang,” rengekku.
Hendra semakin menggila seperti apa yang aku
inginkan. Matanya tertutup menikmati sex yang
kami lakukan. Lagi-lagi hatiku bersorak, kalau dia
sedang menikmatninya. Sebentar lagi dia akan
menghiba meminta kenikmatan dariku dan aku
mulai memimpin persetubuhan, tanpa setahunya.
Aku akan mengajarinya menjilati vaginaku,
menjilati anusku dan mempermainkan diriku,
seakan itu adalah kehebatannya, padahal akulah
sutradaranya.